Apa sebenarnya asam borat itu? Asam borat (H3B03) merupakan senyawa borat yang dikenal juga dengan nama boraks. Di Jawa Barat dikenal juga dengan nama bleng, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikenal dengan nama pijer. Dalam dunia industri, boraks menjadi bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu, antiseptik kayu, dan pengon trol kecoa (insektisida).
Dalam bentuk tidak murni, sebenarnya boraks sudah diproduksi sejak tahun 1700 di Indonesia, dalam bentuk air bleng. Bleng biasanya dihasilkan dari ladang garam atau kawah lumpur. Tujuan penambahan boraks pada proses pengolahan makanan adalah untuk meningkatkan kekenyalan, kerenyahan, serta memberikan rasa gurih dan kepadatan, terutama pada makanan yang mengandung pati.
Asam boraks berbentuk serbuk kristal transparan atau granul putih tak berwarna dan tak berbau serta agak manis. Namun saat ini borat banyak dimanfaatkan untuk tambahan makanan; pada lontong agar teksturnya menjadi bagus, pada bakso di mana biasanya berkisar 0,1-0,5% dari berat adonan bakso atau antara 1000-5000 ppm, krupuk, pempek, pisang molen, pangsit, tahu, dan bakmi.
Boraks biasa digunakan dalam industri gelas, pelikan porselin, alat pembersih, dan antiseptik. Kegunaan boraks sebenarnya ialah sebagai zat antiseptik, obat pencuci mata (barieacid 30%), salep (boorsalp) untuk menyembuhkan penyakit kulit, salep untuk mengobati bibir (borak gliserin), dan pembasmi semut (barieacid boraks).
Efek samping terhadap kesehatan
Efek farmakologi dan toksisitas senyawa boron atau asam borat merupakan bakterisida lemah. Larutan jenuhnya tidak membunuh Staphylococcus aureus. Oleh karena toksisitas lemah maka dapat digunakan sebagai bahan pengawet pangan. Walaupun demikian, pemakaian berulang atau absorpsi berlebihan dapat mengakibatkan toksik (keracunan). Gejala dapat berupa mual, muntah, diare, suhu tubuh menurun, lemah, sakit kepala, rashery thematous, anoreksia, berat badan menurun, ruam kulit, anemia, dan konvulsi, bahkan bisa menimbulkan shock. Dan bila dikonsumsi terus-menerus bisa menyebabkan gangguan pada gerak pencernaan usus, kelainan pada susunan saraf, depresi, dan kekacauan mental. Dalam jumlah serta dosis tertentu borak bisa menyebabkan degradasi mental, serta rusaknya saluran pencernaan, ginjal, hati, dan kulit karena boraks cepat terabsorpsi oleh saluran pernapasan dan pencernaan, kulit luka, atau membran mukosa. Kematian pada orang dewasa dapat terjadi dalam dosis 15-25 gram, sedangkan pada anak-anak dalam dosis 5-6 gram.
Pemakaian boraks untuk campuran bahan makanan merupakan tindak an yang melanggar undang-un dang perlindungan konsumen. Jadi para produsen makanan sebaiknya lebih bijak dalam memilih bahan olahan makanan yang akan dijual, agar hal tersbut tidak menimbulkan kerugian di kedua belah pihak, baik konsumen maupun produsen. Un tuk para konsumen, sebaiknya lebih teliti dalam memilih ja janan yang dibeli. mang sekilas terlihat sama. Untuk itu ketel. tian harus diutamakan Tahu, bakso dan mi basah adalah 3 jenis makanan yang sering dicampur dengan bo raks agar teksturnya menjadi lebih kenyal dan lebih awet.
Bahan pengganti boraks yang aman
Karena penggunaan boraks adalah sebagai pengenyal, bahan pengganti dapat dicari untuk fungsi yang sama. Air merang dan STPP (Sodium Tripolyphosphate) dengan konsentrasi sama diketahui tidak memengaruhi tanggapan organoleptik (kesan fisik dan rasa) dari kerupuk beras.
Melihat dampak mengonsumsi makanan yang mengandung bleng atau boraks yang begitu mengerikan, perlu diupayakan bahan pengganti yang aman. Penelitian ini telah saya lakukan bersama mahasiswa pada kerupuk puli dan bakso. Hasilnya, peran bleng atau boraks dapat diganti dengan STPP (Sodium Tripolyphosphate).
Sodium tripolyphosphate merupakan senyawa polifosfat dari natrium dengan rumus Na,P,O, STPP berbentuk bubuk atau granula, berwarna putih dan tidak berbau. Kelarutan STPP dalam air sebesar 14,5 gr per 100 ml pada suhu 250 C, nilai pH sebesar 9,8 pada suhu 20° C. Senyawa fosfat (STPP) banyak digunakan dalam industri pangan karena memiliki beberapa sifat kimia dan fungsi yang menguntungkan.
STPP mampu menambah cita rasa, memperbaiki tekstur, mencegah terjadinya rancidity (ketengikan), dan meningkatkan kualitas produk akhir dengan mengikat zat nutrisi yang terlarut dalam larutan garam seperti protein, vitamin dan mineral (Shand, et al., 1993). Hal ini sesuai dengan pernyataan Thomas (1997) bahwa STPP dapat menyerap, mengikat dan menahan air, meningkatkan water holding capacity (WHC), dan keempukan. Menurut FDA (Food and Drug Administration), penggunaan alkali fosfat adalah 0,5% pada produk. Penggunaan melebihi dosis 0,5% akan menurunkan penampilan produk, yaitu terlalu kenyal seperti karet dan terasa pahit.
Teliti memilih makanan adalah suatu tindakan preventif yang tepat
Tak bisa dihindari, banyak produsen makanan yang dengan sengaja menambahkan boraks dengan berbagai tujuan. Kebanyakan untuk mengempukkan bahan makanan. Ada beberapa jenis makanan yang biasanya ditambah boraks, di antaranya:
1. Mi basah
Ciri-ciri mi basah yang menggunakan campuran bo raks adalah tidak lengket, tekstur kenyal, dan tidak mudah putus. Untuk itu hati-hati bahaya mi instan cukup mematikan.
2. Bakso.
Jika kita menemukan bakso dengan tekstur yang ke nyal, warnanya tidak sesuai dengan warna asli daging tetapi cenderung cerah keputih-putihan, itu menandakan bahwa makanan tersebut menggunakan boraks sebagai bahan peng awet.
3. Ikan dan ayam potong.
Ikan yang sudah diawetkan dengan boraks biasanya berwarna putih, insang berwarna merah tua, tidak mudah busuk
4. Tahu
Tahu yang memakai bahan pengawet boraks biasanya akan tahan lama jika disimpan dalam lemari es, sekitar 3 hingga 15 hari serta tidak mudah hancur. Tidak heran beberapa tahu yang digoreng menjadi lebih mematikan, padahal bahaya gorengan tahu sendiri sudah cukup banyak, bagaimana jika ditambah boraks? MATI
5. Kerupuk.
Ciri-ciri jika makanan ini mengandung boraks adalah teksturnya renyah dan rasanya getir.
6. Lontong.
Ciri-ciri lontong berboraks adalah teksturnya kenyal, rasa getir, tajam.